Selasa, 25 Desember 2012
SELEMBUT SUTRA 2
HANYA SEPULUH menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Benny naik ke atas tubuh Aningsih yang sudah siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan pinggulnya mekar dan indah. Benny menciumi bahu dan payudara Aningsih, sementara bazokanya yang sudah benar-benar tegang menggeser-geser di paha Aningsih.
Aningsih menggenggam batang bazoka Benny yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman-ciuman Benny yang bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Benny yang sudah membengkak tepat di ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha Aningsih sudah direntangkannya selebar-lebarnya.
"Benn . . . !! Pelan-pelannn, sayanghhh!!" bisik Aningsih gemetar. "Kepunyaanmu besar sekali!"
Benny mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. "Ayoh, Benn! Tekan, sayangghh!! Sssshh . . . pelan-pelllaann !!" Aningsih memejamkan matanya.
Benny mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: "Auww . . . !!!" Aningsih menjerit tertahan. "Bennnnnn!! Sssaakkhittsss!" dan tubuh Aningsih mengejang, bergetar menahan rasa perih.
Benny mengerti. Dia tidak main asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit Aningsih. Benny merasakan lobang vagina Aningsih menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan main nikmatnya!
"Ayoh, Ben! Tekan lagi!" bisik Ningsih setelah rasa sakit itu hilang.
Benny menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Benny yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Aningsih tersentak sambil menjerit: "Addduuhhh! Bennn! Ssssaakkhittss "
"Tahankan, sayang!" bisik Benny sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata Aningsih yang berlinang. "Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!"
Benny membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor masuk. Lagi-lagi Aningsih merasakan kemaluan Benny bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya. Aningsih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu.
Namun lama kelamaan, rasa sakit dan linu itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Benny keluar masuk mulai mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar-masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep! Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu didorong masuk, vagina Aningsih sampai kempot. Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm! Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku," kata Benny.
"Kepunyaanmu terlalu besar, Ben," ujar Aningsih sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal mana semakin mendatangkan nikmat bagi Benny. Demikian pula bagi Aningsih. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. "Bagaimana, sayang?! Masih sakit?!" tanya Benny sambil mengecupi belakang telinga Aningsih. Aningsih menggelinjang-gelinjang geli.
"Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat." bisik Aningsih.
"Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!" ujar Benny. "Kemaluanmu juga enak, Mbak. Enak sekali!"
"Bennn . . . !!" Ujar Aningsih yang tersenyum bangga, menerima pujian Benny.
"Ada apa?!" tanya Beatty.
"Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!"
"Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!" Benny meliuk-liuk ke sana-ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan Aningsih yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah.
"Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang," bisik Benny dengan mesranya. "Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!"
"Ayoh, sayang! Aku sudah siap," kata Aningsih sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.
Dan Benny pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina Aningsih. Blesss! Wow!, Aningsih bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana menggelosornya benda itu. Nikmat sekali. Tetapi Aningsih jadi agak kecewa ketika Benny menghentikan dorongannya. Batang kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. Aningsih jadi penasaran dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi.
"Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan, dorongghh . . . .!!" kaki Aningsih menjepit pinggang Benny. Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Benny ke bawah. Benny mengerti, Aningsih sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa lagi.
Tetapi bukannya mendorong, Benny malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar. Aningsih jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Benny mengayunkan pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Aningsih.
Aningsih menjerit sekuat-kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, "Crot! Crrrt! Crrrotttss . . . !!" semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali. Membanjiri seluruh lobang gua Aningsih. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan oleh Aningsih. Dan bersamaan dengan jeritan Aningsih, Benny pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh Aningsih kuat-kuat. Aningsih merasakan tubuhnya bagaikan remuk.
Hmmmh!" Akh. Mbak! Hmmm! Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!" Benny meracau sambil meronta-ronta. Matanya membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, Aningsih merasakan batang zakar Benny berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir.
Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Benny merasakan dirinya lemas. Dan tergulirlah dari atas tubuh Aningsih. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. Aningsih memijit hidung Benny.
"Luar biasa sekali," ujar Aningsih. "Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben!Sungguh!"
"Aku juga begitu, Mbak. Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!" balas Benny. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya.
Apa yang dikatakan Aningsih memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai.
Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai pose pula. Model nungging, model berdiri. Model diganjal bantal. Semuanya memuaskan! Aningsih merasakan kebahagiaan amat sangat. Demikian pula halnya dengan Benny. "Aku semakin mencintaimu, Mbak!" bisiknya.
Aningsih menggeleng-gelengkan kepala. "Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!" ujarnya Aningsih.
"Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, Mbak!" ujar Benny lagi.
"Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, Mbak. Dan aku ingin memilikimu!"
Aningsih memijit hidung Benny dengan mesra. "Ih, dasar bandel!" ujar Aningsih. "Kalau saja kau tahu siapa diriku, pasti kau akan membenciku!"
""Tidak, Mbak. Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, Mbak?! Apalagi?!"
"Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir, apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu. Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah!
Benny tidak menjawab. Hanya merenung.
"Deagarlah, Ben!" ujar Aningsih sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Benny. "Dan pikirkanlah. Aku ini janda. Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!"
"Baiklah, Mbak. Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu," jawab Benay.
bersambung ke bagian 3
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar